🎧
Kiri
Fitting in
society
🎵
Kanan
Being
happy

Sisi kiri: AirPods. Rapi. Putih bersih. Duduk mulus di dalam kotaknya. Simbol modernitas. Simbol "kamu sudah sampai."

Sisi kanan: earphone berkabel. Kusut. Melilit-lilit sendiri. Kabelnya seperti benang yang tidak ada yang mau mengurai. Tetapi di meme itu, sisi kanan diberi label: being happy.

Dan aku tertawa. Tetapi tawa yang ada sedikit "aduh, benar juga" di dalamnya.

💭 Monolog dalam kepala

"Ternyata, itu persis seperti aku."

"Aku adalah earphone kusut yang bahagia."

"Dan aku sudah lama berdamai dengan itu."

Karena kalau aku jujur, hidupku memang tidak selalu terlihat rapi dari luar. Pilihan-pilihan yang aku buat tidak selalu yang paling lazim, tidak selalu yang paling mudah dijelaskan kepada orang lain. Membuat blog di zaman semua orang membuat konten video? Masih menulis panjang-panjang ketika artikel pendek lebih mudah tersebar? Lebih memilih naik kereta sendirian mengelilingi Jawa daripada paket wisata yang terlihat memukau di media sosial?

Di mata sebagian orang, itu mungkin terlihat seperti earphone kusut.

Tetapi aku bahagia.

Kapan kita mulai mengira "rapi" dan "bahagia" itu hal yang sama?

Inilah yang menurutku paling menarik dari meme sederhana itu. Meme ini menyentil sesuatu yang kita anggap wajar begitu saja sejak kecil: bahwa terlihat baik di mata orang lain dan benar-benar merasa baik dari dalam adalah satu paket yang tidak terpisahkan.

Membeli barang yang "sepadan", bukan karena butuh, tetapi karena itulah yang orang lain pakai. Memilih karier yang terdengar prestisius di acara keluarga. Mengunggah foto yang kelihatan hidupnya menarik, bukan foto yang benar-benar mencerminkan hari itu.

📱
Menyesuaikan diri Membeli AirPods karena semua orang memilikinya. Agar tidak ditanya, "itu masih pakai kabel?"
🎶
Menjadi bahagia Memakai earphone berkabel lama karena kualitas suaranya masih baik, masih nyaman, dan tidak perlu khawatir kehabisan daya di tengah daftar putar favorit.
👔
Menyesuaikan diri Bekerja di industri yang terdengar bergengsi, agar bisa menjawab pertanyaan "di mana kerja?" dengan penuh percaya diri.
💻
Menjadi bahagia Bekerja di bidang yang membuat kamu tidak ingin hari Senin cepat berlalu, meskipun tidak semua orang mengenal nama profesinya.

Aku tidak sedang bilang bahwa menyesuaikan diri dengan lingkungan itu salah. Manusia memang makhluk sosial. Kita butuh merasa terhubung, butuh merasa diterima. Itu bukan kelemahan, itu manusiawi.

Yang aku persoalkan adalah ketika kita mulai mengorbankan kebahagiaan demi terlihat sesuai, tanpa pernah benar-benar sadar sedang melakukannya.

"Kita sering lebih tahu apa yang orang lain harapkan dari kita, daripada apa yang sebenarnya kita harapkan dari diri sendiri."

Dan itu perlahan-lahan melelahkan. Karena kamu tidak pernah benar-benar beristirahat, kamu selalu sedikit bersiaga, sedikit tampil, sedikit menjaga citra.

Earphone kusutku itu namanya: jujur sama diri sendiri.

Ada hal-hal yang aku lakukan yang mungkin tidak terlihat keren. Aku suka duduk berjam-jam di kafe sendirian untuk menulis hal-hal yang tidak ada tenggat waktunya. Aku masih menikmati musik dari earphone berkabel yang kabelnya harus aku urai dulu selama dua menit sebelum masuk ke telinga. Aku memilih berjalan kaki menjelajahi kota daripada naik ojek daring agar cepat sampai.

Tidak ada yang spektakuler dari itu semua. Tidak ada yang layak dijadikan keterangan foto yang ramai diperbincangkan. Tetapi di momen-momen itu, di antara kabel kusut dan kopi yang sudah dingin, aku merasa paling aku.

🎧 Pengakuan jujur

Dulu aku pernah kehabisan energi bukan karena terlalu banyak bekerja, tetapi karena terlalu banyak menjaga penampilan. Bukan penampilan fisik, tetapi penampilan hidup. Harus kelihatan berada di jalur yang benar, harus kelihatan punya arah yang jelas, harus kelihatan tidak bingung.

Padahal di dalam, aku sering bingung. Dan bingung itu ternyata wajar. Bingung itu bagian dari proses. Yang tidak wajar adalah berpura-pura tidak bingung demi terlihat rapi di mata orang lain.

Sejak aku berhenti berpura-pura, hidup terasa lebih ringan. Bukan karena masalahnya berkurang, tetapi karena aku tidak lagi membawa beban ganda: beban masalah dan beban citra.

Meme itu sederhana. Mungkin pembuatnya pun tidak berpikir terlalu dalam ketika membuatnya. Tetapi kadang justru hal-hal sederhana itu yang paling tepat memukul sesuatu yang sudah lama kita tahu tetapi belum mau kita akui.

Kita tahu mana yang membuat kita benar-benar bahagia. Kita tahu. Hanya saja kadang suara "tetapi nanti orang pikir apa?" itu lebih keras dari suara diri sendiri.

Jadi kalau hari ini kamu sedang memilih antara terlihat rapi atau merasa bahagia, aku tidak akan bilang pilihan mana yang benar, karena itu bukan urusanku.

Tetapi aku akan bilang ini: earphone kusut itu tetap bisa memutar lagu yang kamu suka.

Dan kadang, itu sudah cukup.

"Bahagia itu tidak selalu rapi. Tapi rapi yang tidak membuatmu bahagia, itu pasti ada yang salah."

Meme sederhana ini mengingatkanku bahwa hidup tidak harus kelihatan mewah untuk terasa bermakna. Earphone kusut, kopi dingin, tulisan panjang yang tidak banyak dibaca, tetapi aku di sini, dan aku baik-baik saja. 🎶

Ditulis sambil mengurai kabel earphone,

Angga Narotama

Life, Art & Everything Nice