Masih pakai baju yang sama dengan semalam. Rambut belum disisir. Muka kelihatan seperti orang yang baru saja tidur di kursi bus selama delapan jam, karena memang itu yang baru saja terjadi.

Tapi saya sampai. Dan untuk sekarang, itu sudah lebih dari cukup.

Semalam, ~22.00 WIB
🏙️ Terminal Kampung Rambutan, Jakarta
Naik bus sleeper. Taruh ransel. Rebahkan kursi. Coba tidur.
Tengah malam
🌙 Entah di mana, Tol Trans Jawa
Setengah sadar. Lampu jalan berkedip di balik kaca. Otak melayang antara mimpi dan sadar.
Pagi ini, ~06.30 WIB
📍 Terminal Arjosari, Malang
Turun. Berdiri. Menghirup udara. Menyesuaikan diri bahwa ini bukan Jakarta.
Saya di sini sekarang

Sleeper bus itu pengalaman yang aneh. Bukan tidak nyaman, kursinya bisa rebah lumayan jauh, ada selimut tipis, ada bantal kecil yang katanya baru dicuci tapi aroma deterjennya sudah memudar. Cukuplah.

🚌 Laporan dari Atas Bus Semalam

Jam pertama: enak, excited, coba foto-foto suasana bus di Instagram story.

Jam kedua: mulai ngantuk, earphone dipasang, playlist "tidur nyenyak" aktif.

Jam ketiga sampai ketujuh: tidak ada laporan. Tidur.

Jam kedelapan: kondektur teriak "Arjosari!" dan seluruh isi bus terbangun serentak seperti dikejutkan alarm kebakaran.

Begitulah. Delapan jam perjalanan, dan setengahnya saya lewati dalam kondisi tidak sadar. Efisien, sebenarnya. Tapi badan tetap saja tidak sepakat dengan definisi efisien itu.

😴
Tingkat Kantuk
Masih 70%
🦴
Kondisi Badan
Kaku semua
Kebutuhan Mendesak
Kopi. Segera.
🔋
Semangat
Anehnya, tinggi

Yang lucu, meski badan protes ke sana ke mari, ada sesuatu yang lain yang justru menyala. Semacam antusias kecil yang dari tadi tidak mau mati meski kantuk terus menyerang. Mungkin karena ini perjalanan yang sudah saya nantikan. Mungkin karena Malang, atau lebih tepatnya, Kota Batu, sudah lama ada di kepala saya.

💭 Monolog di terminal, pagi-pagi buta

"Oke. Gue sudah sampai Malang."

"Sekarang tinggal naik angkot atau taksi online ke Arjosari... eh, ini udah di Arjosari."

"Oke. Sekarang naik angkot ke arah Batu."

"Tapi kopi dulu deh. Gue manusia, bukan robot."

Terminal Arjosari pagi hari punya suasana yang khas. Ramai tapi tidak panik. Sopir angkot yang ngobrol sambil ngopi di warung pinggir jalan. Pedagang nasi bungkus yang gerobaknya sudah buka sejak entah jam berapa. Dan saya, berdiri dengan ransel di punggung, mencoba terlihat seperti orang yang tahu arah padahal sedang membuka Google Maps.

"Ada sesuatu yang menyenangkan dari momen tepat setelah sampai di kota orang, sebelum kamu benar-benar jalan ke mana-mana, sebelum rencana mulai berjalan, di saat kamu cuma berdiri dan menyerap suasana yang sama sekali bukan rutinitas."

Itu yang saya rasakan sekarang. Belum bisa bercerita banyak. Belum ada yang terjadi. Belum ada kopi gunung yang hangat, belum ada kabut pagi Batu yang katanya mak nyus buat foto, belum ada cerita dari jalanan sempit yang naik turun.

Semuanya masih di depan. Masih menunggu.

Dan itulah mungkin bagian terbaiknya, momen sebelum cerita dimulai, ketika semuanya masih kemungkinan.

🗺️ Selanjutnya

Dari Arjosari, saya akan naik angkot jurusan Batu. Sekitar 45 menit perjalanan menanjak, melewati Karangploso, dan pelan-pelan udara Jakarta yang berat akan berganti menjadi udara yang sejuk dan bersih. Ceritanya nanti saya tulis dari sana, kalau sinyal bagus dan kopi sudah masuk.

Untuk sekarang, ijinkan saya pesan kopi dulu di warung sebelah.

Ini baru hari pertama. Dan saya sudah senang.

"Perjalanan yang baik tidak selalu dimulai dari kondisi yang siap, kadang cukup dari tekad untuk berangkat, sisanya mengikuti."

Terima kasih sudah menemani perjalanan ini dari Jakarta sampai ke Terminal Arjosari. Cerita dari Kota Batu menyusul sebentar lagi. Tunggu ya. ☕🏔️

Ditulis sambil nunggu angkot, di terminal yang bising,

Angga Narotama

Life, Art & Everything Nice