Jujur, hari ini bukan Selasa biasa.
Kalau Selasa minggu lalu itu masih soal kemalasan dan rasa tanggung, hari ini ada di level yang berbeda. Hari ini lebih mirip seperti seseorang membuka kran dari tiga arah sekaligus, dan saya cuma punya dua tangan.
Ringkasan situasi hari ini sebelum jam makan siang:
Berbarengan
Stuck Crontab
Curhat Mendadak
Oke. Tarik napas. Cerita dulu satu per satu.
๐ฅ Kebakaran #1: Deadline yang Bertabrakan
Pagi ini saya buka Jira bukan untuk produktif, tapi untuk menghitung nasib. Dua project, dua klien, dua deadline yang entah kenapa memutuskan untuk mepet di minggu yang sama. Satu project sudah 80%, tinggal QA dan finalisasi. Yang satu lagi baru 60% dan masih ada beberapa fitur yang belum rapi.
Saya duduk diam sebentar. Lalu mulai buat list prioritas berdasarkan risiko: mana yang kalau telat dampaknya lebih berat? Mana yang bisa dioptimasi dulu tanpa harus mengubah arsitektur?
"Oke, dua deadline bukan berarti saya harus panik dua kali lipat."
"Prioritaskan yang risikonya lebih besar. Selesaikan itu dulu. Baru yang lain."
"...tapi kalau keduanya sama risikonya, ya sudah. Selamat datang, stres."
Ternyata tidak sama. Salah satu punya klien yang lebih vokal dan timeline yang sudah sempat meleset minggu lalu. Itu yang saya kerjakan duluan. Sisanya saya break down jadi task-task kecil yang lebih terkelola.
โ๏ธ Kebakaran #2: Server Kejang karena Crontab
Tengah hari, Slack berbunyi. Alert monitoring masuk: server production lambat, beberapa request sudah mulai timeout. Saya buka, dan kondisinya seperti orang yang kelelahan, tidak mati, tapi nafasnya berat.
Root cause-nya ketemu cukup cepat: crontab.
Kami punya banyak scheduled job yang terakumulasi dari waktu ke waktu. Ditambah satu, ditambah satu lagi, tidak pernah di-review. Beberapa sudah redundan, fungsinya tidak relevan lagi tapi masih jalan. Beberapa lagi intervalnya overlap, satu job belum selesai, yang lain sudah mulai. Server kewalahan menjalankan semuanya bersamaan.
Saya buka SSH, jalankan crontab -l, dan itu pemandangan yang bikin dahi berkerut. Baris demi baris job, ada yang tiap menit, ada yang tiap 5 menit, beberapa bahkan entry ganda. Tidak ada yang salah secara syntax, tapi secara logika, ini seperti warung kecil yang menerima order terlalu banyak sampai dapurnya tidak sanggup.
Solusinya: pruning. Hapus yang redundan, merge yang bisa digabung, atur ulang interval yang overlap. Sekitar satu jam kemudian, server kembali napas normal.
๐ฌ Kebakaran #3: Atasan Masuk, Duduk, Curhat
Jam dua siang. Saya hampir selesai membereskan sisa chaos crontab, sudah mulai kembali ke ritme kerja yang normal. Lalu atasan masuk, duduk di kursi sebelah, dan diam sebentar.
Bukan marah. Bukan ada meeting mendadak. Tapi curhat.
Soal project dengan vendor yang sudah overdue berbulan-bulan. Vendor yang commitment-nya tidak konsisten, timeline yang terus bergeser, pressure dari stakeholder yang makin tinggi dan makin tidak sabar. Beliau tidak butuh solusi instan, hanya butuh seseorang yang mau duduk, dengarkan, dan mengerti konteksnya.
"Ini tidak ada di job description saya."
"Tapi dia butuh pendengar yang ngerti soal ini. Dan saya ada di sini."
"Oke. Laptop tutup dulu. Dengerin dulu."
Saya tutup laptop dan dengerin sampai selesai. Kalau kata orang, sometimes the most productive thing you can do is just listen. Dan hari ini terasa seperti itu.
"Ada hari-hari ketika kamu bukan hanya programmer, kamu juga project manager dadakan, sysadmin darurat, dan pendengar rekan kerja, semua dalam satu shift. Dan ternyata itu tidak apa-apa."
Tapi yang paling menarik dari hari ini bukan ketiganya.
Yang paling menarik adalah: di tengah semua chaos itu, deadline yang menjepit, server yang diotak-atik, dan sesi curhat yang tidak direncanakan, saya menemukan sesuatu. Sesuatu kecil. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan semua itu.
Tapi efeknya? Membuat seharian ini terasa enteng. Bahkan di saat yang paling kacaunya sekalipun.
Saya menemukannya di sela-sela deadline dan server log yang berantakan. Sesuatu yang kecil, tidak penting bagi orang lain, tapi bagi saya hari ini, rasanya seperti menemukan cokelat batangan di dalam laci meja yang sudah lama tidak dibuka.
Bukan prestasi besar. Bukan pencapaian karir. Hanya sebuah momen kecil yang tiba-tiba muncul dan membuat saya berpikir: oh, hari ini tidak seburuk yang terasa di pagi hari.
Selasa ini membuktikan satu hal: hari yang kacau dan hari yang baik bisa jadi hari yang persis sama. Tergantung dari mana kamu menatapnya, dan apakah kamu cukup beruntung, atau cukup jeli, untuk menemukan satu hal kecil itu yang membuat semuanya terasa lebih ringan.
Server sudah stabil. Deadline masih bisa dikejar. Atasan sudah merasa lebih lega setelah cerita. Dan saya? Masih punya rahasia yang bikin senyum sampai sekarang.
"Bukan hari yang tenang yang mengajarkan kita cara bertahan. Justru hari-hari seperti ini, yang datang sekaligus, berantakan, tidak minta izin, yang pelan-pelan mengajari kita cara tetap utuh di tengahnya."
Semoga Selasamu tidak sekacau punyaku hari ini. Tapi kalau iya, percaya saja, pasti ada satu hal kecil di suatu sudut hari ini yang akan membuat kamu senyum tanpa alasan yang jelas. โ
Ditulis setelah semua api padam,
Angga Narotama
Life, Art & Everything Nice
๐ฌ Bagikan Pendapatmu
Punya pikiran, pertanyaan, atau cerita terkait artikel ini? Tinggalkan komentar di bawah โ saya senang mendengarnya!