Pagi ini, pukul 06:30, Jakarta menyambut dengan cara yang sangat Jakarta: sibuk, padat, dan tidak peduli bahwa saya baru saja pulang dari liburan.
Sejenak sempat terpikir untuk mampir ke kos dulu. Taruh koper, ganti baju dengan lebih santai, minum kopi yang diseduh sendiri. Tapi kalkulasinya tidak masuk. Kos, balik kantor, macet pagi, potensi telat yang tidak perlu. Akhirnya keputusan diambil langsung dari dalam kereta: langsung ke kantor. Koper ikut serta. Tidak apa-apa.
"Jadi langsung ke kantor ya."
"Kopernya nanti ditaruh di loker atau di bawah meja dulu."
"Setidaknya tidak telat. Itu yang penting."
"Kemarin masih di Malang. Sekarang ini sudah Jakarta. Cepat sekali."
Sampai di kantor, yang pertama dibuka bukan kopi, tapi Google Calendar. Dan di sana sudah berderet jadwal yang tampaknya tidak sabar menunggu, beberapa meeting, beberapa deliverable yang sudah masuk radar sejak sebelum libur, dan satu-dua hal yang kelihatannya urgent.
Ada satu momen kecil ketika baru duduk di kursi kantor dan layar laptop menyala: satu detik hening, di mana otak mencoba menyesuaikan diri dari mode "liburan" ke mode "kerja". Satu detik itu berlangsung sangat singkat, tapi terasa nyata.
Kemudian mode kerja menyala. Pendingan mulai dihadapi satu per satu. Tidak ada pilihan lain yang masuk akal selain tune in dan mulai dari yang paling perlu diselesaikan duluan.
Ternyata, tubuh lebih mudah beradaptasi dari yang dibayangkan. Mungkin karena beberapa hari kemarin justru membuat kepala lebih jernih dari biasanya.
Ada sesuatu yang menarik dari fenomena kembali kerja setelah liburan singkat. Bukan momen yang paling menyenangkan, tentu saja, tapi ada semacam energi cadangan yang ikut terbawa pulang dari perjalanan. Sesuatu yang tidak kasat mata tapi terasa di cara saya membaca email pagi ini, cara menghadapi item pertama di agenda, cara merespons pesan yang menumpuk.
Lebih sabar dari biasanya. Atau setidaknya, lebih sadar bahwa hal-hal yang terasa besar di layar laptop ini tetap punya proporsinya sendiri, tidak lebih besar dari Gunung Arjuno yang sempat terlihat dari jendela kamar hotel di Batu.
"Tadi pagi masih di kereta. Sekarang sudah rapat."
"Tapi tidak apa-apa. Ini memang urutannya."
"Malang kemarin sepertinya sudah jauh. Tapi juga belum jauh-jauh amat."
"Angin Coban Kaca itu masih terasa kalau mau diingat-ingat."
Di sela-sela kesibukan pagi ini, pikiran sesekali melayang sebentar, ke Batu yang dingin di pagi hari, ke Coban Kaca dengan semprotannya yang menyegarkan, ke ketenangan alun-alun kota kecil yang tidak terburu-buru, ke jalan-jalan Surabaya yang tiba-tiba familiar, ke gang-gang Kampung Jodipan yang lebih sepi dari ekspektasi tapi justru lebih berkesan.
Bukan melamun yang mengganggu pekerjaan. Lebih seperti selingan kecil yang menyenangkan, mampir sedetik, tersenyum, lalu kembali fokus ke layar.
Liburan yang baik bukan yang membuat susah kembali kerja. Tapi yang membuat kerja terasa lebih ringan setelahnya. Dan hari ini, setidaknya untuk sekarang, formulanya sepertinya berhasil.
Tabungan ketenangan dari beberapa hari kemarin memang sudah mulai digunakan pagi ini. Semoga cukup sampai weekend depan.
Tidak terasa, jam di pojok kanan layar sudah menunjukkan angka 12. Dari tiba di stasiun tadi pagi hingga sekarang, waktu berlari dengan kecepatan yang biasanya hanya dimiliki oleh hari-hari Senin. Ada yang bilang, Senin yang terasa cepat adalah pertanda baik, artinya kita cukup sibuk, cukup fokus, dan tidak sempat meratapi hari libur yang baru saja lewat.
Sebelum ishoma, sempat-sempatnya duduk sebentar dan mengetik artikel ini. Bukan karena ada target nulis, tapi karena rasanya sayang kalau semua yang baru dijalani kemarin didiamkan begitu saja tanpa sedikit diabadikan. Tulisan ini adalah cara saya menutup bab perjalanan kali ini dengan layak.
"Kembali ke rutinitas bukan berarti liburan berakhir sia-sia. Justru di sinilah liburan itu mulai membuktikan nilainya, lewat cara kita menghadapi hari pertama setelah pulang."
Perjalanan kali ini sudah selesai secara fisik. Batu, Coban Kaca, Surabaya, Malang, Kampung Jodipan, sepeda pagi, kereta sore, dan kini kursi kantor yang familiar. Lingkaran yang lengkap, tidak perlu ditambah-tambahi.
Yang tersisa sekarang adalah melanjutkan hari dengan energi yang masih ada, menghadapi pendingan yang memang harus dihadapi, dan menunggu waktu ishoma dengan sabar. Dan sesekali, kalau pikiran mengizinkan, mengingat sebentar suasana pagi di Malang kemarin, udara yang masih mau berbaik hati, dan roda sepeda yang berputar tanpa agenda yang terlalu ketat.
Bagaimana kalian habiskan libur kemarin? Apakah juga sempat pergi ke suatu tempat, atau justru memilih recharge di rumah saja, yang mana pun sama validnya?
Apa pun pilihannya, semoga hari ini kalian dalam keadaan sehat, badan tidak protes terlalu keras setelah libur, dan semangat kerja pelan-pelan kembali menyala. Senin memang tidak pernah mudah, tapi setidaknya kita melewatinya bersama-sama.
Selamat kembali bekerja. Semoga hari ini berjalan baik untuk kalian semua. 🙏
"Libur sudah selesai. Koper masih di bawah meja. Kopi kantor sudah habis. Dan artikel ini sudah jadi. Hari Senin ini ternyata bisa dihadapi juga."
Ditulis di kantor, pukul 12 siang, sebelum ishoma. Perut sudah protes dari tadi. 😄
Ditulis di kantor, di sela pendingan dan meeting,
Angga Narotama
Life, Art & Everything Nice
💬 Bagikan Pendapatmu
Punya pikiran, pertanyaan, atau cerita terkait artikel ini? Tinggalkan komentar di bawah — saya senang mendengarnya!