Tujuan hari ini: Coban Kaca.

Yang saya tahu sebelum berangkat cuma namanya dan bahwa itu air terjun. Tidak lebih. Tidak ada riset mendalam, tidak ada baca ulasan dulu. Saya pesan ojek online, masukkan lokasi, dan biarkan pengemudinya yang tahu jalan.

Hal pertama yang saya pelajari pagi ini: ada ojek yang bisa langsung ke lokasi Coban Kaca.

Saya tadinya sudah mental-set untuk trekking panjang. Sudah pakai sepatu yang agak tebal, sudah siapkan napas. Ternyata motornya bisa masuk cukup jauh, sampai titik yang jaraknya sudah sangat dekat ke air terjun. Bapak ojeknya bahkan hafal jalan tikus yang memotong beberapa ratus meter.

💭 Dialog, titik pemberangkatan, sebelum lari

"Bisa ojek ke lokasi, Mas."

"Oh, makasih, tapi saya mau lari aja."

"Loh? Lumayan jauh loh, Mas."

"Iya, emang itu yang dicari."

[bapak ojeknya mengangguk dengan ekspresi yang tidak bisa dipastikan antara respect dan kasihan]

Dari starting point di Jalibar, mulai lari pelan. Fase pertama jalurnya terbuka, jalan makadam dan batu tatah yang cukup lebar, ideal untuk pemanasan dan menemukan ritme. Di kanan kiri, perkebunan sayur warga lokal. Udara lereng Gunung Panderman masuk ke paru-paru beda caranya dari udara kota manapun yang pernah saya hirup sebelumnya.

Di jalur ini ketemu beberapa orang. Ada yang trail run juga, ada yang jalan santai, ada yang sudah balik duluan. Tidak ada yang ngobrol panjang, tapi ada semacam anggukan kecil atau senyum singkat yang hanya ada di antara orang-orang yang memilih pagi yang sama di tempat yang sama. Sensasi itu tidak akan ada kalau naik ojek.

Setelah beberapa waktu, jalur mulai menyempit jadi single track. Vegetasi berubah drastis, perkebunan berganti hutan lindung yang rimbun, pohon-pohon besar di kanan kiri, langit di atas hampir tertutup kanopi. Pace disesuaikan. Jalur dikelilingi kontur tebing, beberapa titik berbatasan langsung dengan jurang landai. Tanah di sini bisa sangat licin kalau malam sebelumnya hujan.

Mendekati air terjun, medan berubah lagi. Lebih teknis, berbatu, akar pohon menyembul, dan tanjakan curam yang kata pelari lokal cukup "pedas di kaki". Kecepatan otomatis turun ke power hiking. Dan di titik itu, suaranya sudah terdengar duluan.

Suara air yang jatuh dari atas. Bukan gemuruh besar, tapi cukup untuk terdengar di antara suara daun dan burung pagi. Dan waktu belok di tikungan jalur terakhir, Coban Kaca ada di sana.

🏔️ Laporan Jalur Coban Kaca
Start: Jalibar / Oro-Oro Ombo Jarak: ~5 km (satu arah) Durasi: 1–2 jam per arah Kesulitan: Intermediate

Fase 1 — Terbuka (Jalibar → Perkebunan): Jalan makadam lebar, ideal untuk pemanasan dan pacing awal. Perkebunan sayur warga di kanan kiri, pemandangan terbuka, udara segar khas lereng Gunung Panderman.

Fase 2 — Hutan Lindung (Single Track): Jalur menyempit drastis. Hutan rimbun, kontur tebing, beberapa titik berbatasan langsung dengan jurang landai. Tanah bisa sangat licin kalau malam sebelumnya hujan.

Fase 3 — Final Approach (Teknis): Medan berbatu, akar pohon, tanjakan curam. Pelari lokal menyebutnya cukup "pedas di kaki". Pace biasanya turun ke power hiking. Suara air terjun mulai terdengar di sini.

Ojek: Tersedia dari Jalibar, tapi kalau mau pengalaman penuh, jalan kaki atau trail run.

Coban Kaca itu tidak raksasa. Tidak seperti air terjun yang tingginya bikin kepala mendongak sampai pegal. Tapi ada sesuatu di proporsinya yang pas, tinggi yang cukup untuk menghasilkan suara, lebar yang cukup untuk menghasilkan percikan yang menjangkau sampai beberapa meter ke depan.

Dan airnya. Namanya "Kaca" bukan tanpa alasan. Jernih sungguh-sungguh, bisa kelihatan bebatuan di dasarnya meski airnya terus bergerak. Di kolam kecil di bawah jatuhan utama, pantulan cahaya pagi membuat permukaannya kilap seperti kaca yang baru dilap.

💦
Air
Jernih seperti kacanya, bisa lihat dasar
🌿
Suasana
Hutan lebat, suara air, tidak ramai
🌚
Pagi Hari
Cahaya matahari masuk celah-celah pohon
🏃
Sesama Pelari
Anggukan kecil di jalur, sudah cukup jadi koneksi

Saya duduk di batu besar di tepi kolam. Tidak ada yang dilakukan selain mendengarkan, suara air, suara angin di atas pohon, sesekali suara burung yang tidak tahu nama jenisnya tapi suaranya bagus. Tidak ada sinyal HP yang kuat di sini. Tidak ada notifikasi yang masuk. Kondisi yang harusnya bikin resah, tapi justru terasa seperti jeda yang tepat.

💭 Batin, duduk di batu, tidak ada sinyal

"Sinyal satu bar. Sekarang nol."

"Seharusnya panik. Tapi malah enak."

"Mungkin ini yang orang maksud waktu bilang 'recharge'."

"Bukan ngecas HP-nya. Tapi orangnya."

Saya duduk cukup lama di situ. Sampai akhirnya baru sadar periksa HP, sinyal masuk satu bar, notifikasi yang tertahan langsung muncul semua. Jam 09.28. Dan yang lebih penting dari itu: hari Jumat.

Jadi artikel ini ditulis di sini, di batu yang sama, dengan suara air yang masih persis sama di belakang. Ojek sudah saya ping. Dari hotel ke masjid terdekat juga perlu diperhitungkan waktunya. Tidak banyak ruang untuk bersantai di batu lebih lama.

"Ojek tersedia. Saya pilih lari. Bukan karena tidak mau naik, tapi karena yang dicari memang gerak badannya, udaranya, pemandangan sambil bergerak, dan orang-orang yang ketemu di jalur, yang sama-sama milih pagi itu untuk hal yang sama."

Paginya sudah cukup penuh. Coban Kaca ditemukan, jalurnya tidak seberat dugaan, airnya persis seperti namanya. Dan sekarang ada satu agenda lagi yang tidak ada di itinerary tapi wajib ada di setiap hari Jumat.

Lari balik ke starting point sekarang. Dari sana ojek, dari ojek hotel, dari hotel masjid. Sholat Jumat dulu.

"Coban Kaca: lari dari Jalibar, tiga fase jalur berbeda, satu tanjakan yang pelari lokal sebut pedas, duduk di batu, dengar air, nulis sambil nunggu tenaga balik. Cukup persis seperti itu."

Ojek sudah jalan ke sini. Masjid menunggu. Sampai nanti. 🛁☕

Ditulis langsung dari area Coban Kaca, 09.28 pagi, sebelum turun,

Angga Narotama

Life, Art & Everything Nice