Nomor yang saya kenal, tapi tidak saya duga bakal menghubungi di jam-jam begitu. Mantan rekan kerja. Namanya saya simpan rapi di kontak, meskipun sudah cukup lama tidak bertukar kabar. Ternyata dia sedang ada di Surabaya. Tidak jauh dari Kota Batu. Dan dia punya sesuatu yang menurutnya layak untuk dibicarakan langsung, bukan lewat pesan, bukan lewat video call, tapi di meja kopi, dengan kopi sungguhan di depan.

"Ada prospek project yang kayaknya bisa jadi cuan. Bisa ketemu nggak?"

Saya menatap langit-langit kamar hotel selama tiga detik. Lalu jawab: oke.

💭 Monolog tengah malam sebelum tidur

"Oke, jadi besok pagi gue naik kereta ke Surabaya."

"Padahal tadinya rencana hari ini santai di Batu."

"Tapi ya... prospek project. Siapa yang bisa nolak?"

"Cuan itu panggilan yang tidak kenal waktu, rupanya."

Itulah awal dari pagi yang, sejujurnya, tidak ada dalam itinerary manapun.

Saya bangun lebih pagi dari biasanya. Beres-beres seadanya, titip koper di hotel karena tidak tahu bakal balik jam berapa, lalu meluncur ke Stasiun Malang. Tidak ada waktu untuk sarapan perlahan. Tidak ada waktu untuk jalan santai menikmati pagi Kota Batu yang biasanya saya nikmati sambil merem-melek.

Dini Hari
📞 Kamar Hotel, Kota Batu
Telepon masuk dari mantan rekan kerja. Tiga detik berpikir. Satu kata: "oke."
Pagi, ~07.00 WIB
🏃 Titip koper, langsung meluncur
Beres-beres kilat. Sarapan dilewat. Grab ke Stasiun Malang.
~08.00 WIB
🚉 Stasiun Malang Kota Baru
Beli tiket kereta. Antri. Cek papan keberangkatan. Cari kursi dekat jendela.
Di atas kereta, sekarang
📍 Perjalanan Malang → Gubeng, Surabaya
Rel lurus memanjang. Sawah bergantian dengan perkampungan. Kopi sachet di tangan. Tulisan ini sedang dikerjakan.
Saya di sini sekarang

Kereta dari Malang ke Surabaya Gubeng itu sekitar dua jam. Tidak terlalu lama, tapi cukup untuk duduk, menikmati jendela, dan merenung lebih dari yang semestinya.

🚆 Info Perjalanan Hari Ini
Rute
Malang → Surabaya Gubeng
Durasi
~2 jam
Status
Dadakan, tanpa rencana

Duduk di kursi dekat jendela. Pemandangan bergantian: rumah warga, sawah, jembatan sungai, dan kadang-kadang pohon pisang yang melambai seolah ikut melepas kepergian.

Kopi sachet dari minimarket stasiun. Bukan yang terbaik, tapi cukup untuk membuat mata benar-benar terbuka.

Ada sesuatu yang saya suka dari naik kereta. Beda dengan naik bus atau mobil, di kereta Anda tidak bisa pura-pura produktif. Laptop susah dibuka kalau meja lipatnya sempit, sinyal kadang naik turun, dan getaran rel yang konsisten punya semacam ritme yang membuat otak pelan-pelan menyerah dari mode kerja dan masuk ke mode melamun.

"Di atas kereta, saya bukan siapa-siapa selain penumpang. Tidak ada tenggat. Tidak ada notifikasi yang mendesak. Hanya jendela, rel, dan pikiran yang akhirnya bisa berjalan dengan kecepatannya sendiri."

Saya sempat bertanya-tanya, sebenarnya mau ketemu apa nanti. Dia belum cerita banyak, hanya bilang ada project, ada klien, dan butuh orang yang paham teknologi sekaligus bisa berkomunikasi dengan klien. Deskripsi yang kedengarannya sangat saya. Atau setidaknya, semoga memang saya.

💼 Yang Saya Tahu Sejauh Ini

Dia mantan rekan kerja. Bisa dipercaya. Rekam jejaknya bagus.

Ada klien. Ada kebutuhan. Ada kemungkinan project berjalan.

Katanya: "Insyaallah bisa jadi cuan."

Detail lainnya? Nanti ketemu langsung di Tunjungan. Di situlah biasanya yang menarik dimulai.

Saya tidak mau terlalu excited sebelum waktunya. Sudah cukup banyak pelajaran hidup yang mengajarkan bahwa "prospek bagus" dan "cuan yang sungguhan tiba" adalah dua hal yang jaraknya bisa sangat jauh. Tapi juga, saya tidak mau terlalu skeptis. Karena beberapa opportunity terbaik yang pernah saya dapat justru datang dari telepon dadakan di jam-jam tidak terduga.

😏
Tingkat Penasaran
Tinggi sekali
Kondisi Kafein
Sachet, cukuplah
🪟
View dari Jendela
Sawah + nostalgia
🎯
Fokus Hari Ini
Dengerin dulu, pikir belakangan

Dan soal Jalan Tunjungan, itu bonus yang tidak saya rencanakan.

Surabaya bukan kota yang asing bagi saya, tapi setiap kali datang ke sini selalu ada saja sudut yang belum pernah saya jelajahi dengan cukup santai. Jalan Tunjungan adalah salah satunya. Jalanan bersejarah di jantung kota, diapit bangunan-bangunan tua bergaya Belanda yang masih berdiri tegak, dengan trotoar yang katanya sudah direvitalisasi dan kini lebih ramah pejalan kaki. Kedengarannya seperti tempat yang cocok untuk bicara panjang sambil jalan pelan-pelan.

Belum lagi soal kuliner. Surabaya adalah kota yang serius soal makanan. Rawon yang kuahnya hitam pekat dan aromanya bikin lapar dari jarak sepuluh meter. Lontong balap dengan taoge segar dan lentho renyah. Rujak cingur kalau perut cukup berani. Dan satu hal yang tidak boleh dilewatkan di Tunjungan: es krim Holland atau sekadar ngopi di kedai yang sudah ada sejak zaman kakek.

💭 Di atas kereta, mendekati Surabaya

"Bentar lagi sampai."

"Ketemu dia, dengerin pitch-nya, tanya yang perlu ditanya."

"Kalau bagus, lanjut. Kalau tidak, setidaknya sudah makan rawon."

"Win-win, sebenarnya."

Pemandangan di luar jendela sudah mulai berubah. Sawah dan ladang perlahan berganti dengan perumahan padat, pabrik, jalan layang, dan semua tanda-tanda bahwa kereta semakin mendekati kota besar. Surabaya. Kota Pahlawan. Kota yang tidak pernah pelan, tidak pernah setengah-setengah.

Saya tutup catatan ini sebelum kereta benar-benar masuk stasiun. Masukkan earphone, lihat jam, pastikan tidak ada barang yang ketinggalan di kursi.

Hari ini tidak ada dalam rencana, tapi terkadang hari-hari terbaik justru seperti itu.

🗺️ Selanjutnya

Turun di Gubeng, langsung ke Jalan Tunjungan. Ketemu dia, ngobrol panjang soal project yang katanya menjanjikan. Setelah itu, misi tidak resmi: berburu rawon dan menjelajah Surabaya selagi ada kesempatan. Ceritanya menyusul dari sana.

"Tidak semua perjalanan butuh itinerary. Kadang cukup modal 'oke' di malam yang sudah hampir tidur, dan sisanya mengalir sendiri."

Terima kasih sudah menemani perjalanan dadakan ini dari kamar hotel Batu sampai atas kereta menuju Surabaya. Doakan prospeknya mulus, dan rawonnya panas. 🚆🍲

Ditulis di atas kereta, antara Malang dan Gubeng,

Angga Narotama

Life, Art & Everything Nice