Di kantor ada yang namanya Knowledge Bite. Acara dua mingguan, satu jam, isinya berbagi pengalaman dan ilmu ke sesama rekan kerja. Konsepnya bagus. Idenya mulia. Dan saya mendukung penuh, selama yang disuruh maju itu bukan saya.

Tapi ternyata, kali ini yang disuruh maju itu saya.

๐Ÿšจ Mode Panik Aktif

Satu jam. Satu jam harus bicara di depan orang. Satu jam harus terlihat punya sesuatu yang layak didengar. Dan otak saya yang pertama kali berpikir: "Emang gue ada apa sih yang mau dishare?"

Saya bukan Mario Teguh. Saya bukan orang yang punya kutipan-kutipan bijak tentang kehidupan yang siap di-copy paste ke caption Instagram. Pengalaman saya? Masih cetek. Karir saya? Masih dalam proses. Hidup saya? Masih dicari juga arahnya.

Tapi oke. Nama sudah terlanjur masuk jadwal. Tidak mungkin nolak. Jadi saya duduk, buka laptop, dan mulai mikir keras sambil menatap cursor yang berkedip-kedip seolah ikut menertawakan kepanikan saya.

๐Ÿ’ญ Monolog dalam kepala

"Pengalaman apa yang bisa gue share ya..."

"Gue bukan motivator, gue juga bukan senior yang punya segudang cerita sukses."

"Tapi gue programmer. Gue bikin sesuatu. Itu kan bisa jadi bahan?"

"...Atau gue pura-pura sakit aja besok?"

Opsi pura-pura sakit sempat masuk pertimbangan serius. Tapi kemudian saya ingat satu hal: saya baru saja selesai bikin sebuah tools internal yang lumayan keren. Tools manajemen task yang mirip-mirip Jira atau ClickUp, tapi versi saya sendiri, dengan fitur yang saya sesuaikan sama kebutuhan kerja sehari-hari.

Dan tiba-tiba kepala saya berbunyi klik.

Itu. Itu yang mau gue ceritain.

Bukan karena saya merasa tools saya lebih canggih dari Jira. Jira itu software besar, tim pengembangannya ribuan orang, budget-nya mungkin lebih besar dari total gaji saya selama sepuluh tahun ke depan. Saya tidak kompetitif ke sana. Tapi ada yang beda: tools ini saya bikin sendiri, untuk kebutuhan saya sendiri, dengan cara berpikir saya sendiri. Dan proses bikin itulah yang menarik untuk diceritakan.

๐Ÿ› ๏ธ Yang Saya Presentasikan
  • โœ“ Tools manajemen task berbasis web, buat, assign, track, dan update status pekerjaan tanpa perlu buka spreadsheet yang berantakan
  • โœ“ Board view ala Kanban, To Do, In Progress, Done. Simpel, tidak over-engineering
  • โœ“ Notifikasi dan deadline tracker, karena manusia mudah lupa, dan itu bukan kelemahan, itu fitur
  • โœ“ Proses di balik layar: kenapa bikin sendiri, apa pertimbangannya, dan apa yang saya pelajari dalam prosesnya

Ternyata presentasi tentang sesuatu yang kamu buat sendiri itu beda rasanya. Tidak perlu menghafal script. Tidak perlu takut salah. Karena kamu yang bikin, kamu yang paling tahu. Kamu bisa ditanya apa saja dan jawabannya sudah ada di dalam kepala, bukan di kertas contekan.

"Kamu tidak perlu punya pengalaman luar biasa untuk berbagi. Cukup ceritakan sesuatu yang kamu kerjakan dengan serius, dan itu sudah jauh lebih berharga dari teori-teori yang dipinjam dari buku orang lain."

Tapi satu jam itu panjang. Dan saya tahu, setelah sekitar empat puluh menit presentasi, orang-orang akan mulai melirik jam. Energi ruangan akan mulai turun. Mata-mata akan mulai setengah terbuka. Itu bukan karena mereka tidak tertarik. Itu karena kita semua manusia, dan otak manusia tidak didesain untuk pasif menyerap informasi selama satu jam penuh.

Jadi saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sedikit gila.

Saya bikin game.

๐ŸŽฎ Game Quiz Multiplayer

Berbasis web. Dibuka dari browser masing-masing. Satu link, semua bisa join. Pertanyaan muncul di layar besar, peserta jawab dari HP masing-masing. Real-time. Skor langsung update. Dan siapa yang paling tinggi skornya di akhir sesi? Dapat hadiah.

Konsepnya mirip Kahoot, tapi buatan sendiri. Karena kalau bisa bikin sendiri, kenapa tidak?

Momen ketika game dimulai itu yang paling saya ingat.

Tiga detik sebelumnya, orang-orang masih agak lesu. Tapi begitu layar menampilkan pertanyaan pertama dan timer mulai berjalan, semuanya berubah. Tiba-tiba semua orang pegang HP dengan serius. Ada yang nunduk mikir keras. Ada yang ketawa karena salah pilih jawaban. Ada yang teriak kecil ketika skor mereka naik. Ruangan yang tadinya tenang-tenang saja mendadak hidup.

Saya berdiri di depan melihat itu semua, dan jujur, saya sedikit terharu. Bukan lebay. Tapi sungguh, ada kepuasan tersendiri ketika sesuatu yang kamu buat bisa membuat orang lain tertawa dan semangat, meski sesuatu itu cuma quiz sederhana.

๐Ÿ† Papan Skor Akhir (Ilustrasi)
๐Ÿฅ‡ Si Cepat Jari 9.400 pts
๐Ÿฅˆ Si Jawab Asal Bener 8.750 pts
๐Ÿฅ‰ Si Kelihatan Serius 7.900 pts
4๏ธโƒฃ Si Sibuk Screenshot 5.200 pts

Sesi berakhir. Pemenang dapat hadiah. Tepuk tangan. Selesai.

Dan setelah semua orang bubar, ada rekan kerja yang menghampiri saya dan bilang: "Itu gamenya asik banget, bikin sendiri ya? Gimana caranya?"

Saya senyum. Dalam hati bilang: nah, ini baru knowledge sharing yang berhasil.

Karena ternyata itulah intinya. Knowledge Bite yang paling efektif bukan yang paling berisi atau paling dalam. Tapi yang membuat orang penasaran, yang membuat orang pulang dengan satu pertanyaan baru di kepala, yang membuat orang berpikir: "Wah, kalau dia bisa bikin itu sendiri, mungkin aku juga bisa."

Dan saya? Saya yang tadinya panik setengah mati mau ngisi acara apa, ternyata justru punya cerita yang paling mudah diceritakan: cerita tentang sesuatu yang saya buat sendiri, dengan tangan sendiri, dan dengan rasa penasaran sendiri.

Kamu tidak perlu jadi motivator untuk punya sesuatu yang layak dibagikan. Kamu cukup jadi dirimu sendiri yang sedang mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Itu sudah lebih dari cukup.

"Yang terbaik untuk dishare bukan yang paling kamu kuasai, tapi yang paling kamu cintai dalam prosesnya."

Kalau kamu programmer dan disuruh ngisi acara, jangan pinjam cerita orang lain. Cerita tentang kode yang pernah kamu tulis saja. Karena di balik setiap baris kode, ada kamu yang berjuang, berpikir, dan akhirnya berhasil. Dan itu jauh lebih menarik dari slide motivasi mana pun. ๐Ÿ’œ

Ditulis setelah sesi berakhir dan jantung kembali normal,

Angga Narotama

Life, Art & Everything Nice