Saya memilih yang kedua.

Di lobi hotel, saya tanya ke resepsionis soal sewa sepeda. Ternyata hotel memang menyediakan, tidak banyak unitnya, tapi cukup. Setelah mengisi formulir sederhana dan meninggalkan kartu identitas sebagai jaminan, saya keluar dengan sepeda yang handlebar-nya sedikit tinggi dan sadelnya perlu satu-dua penyesuaian. Tapi tidak apa-apa. Sepeda jalan, kaki bisa kayuh, dan Malang pagi itu udaranya masih mau berbaik hati.

💭 Di atas sadel, belum sepuluh menit

"Lho, ini enak juga ternyata."

"Udara pagi Malang memang beda. Tidak panas, tidak dingin. Pas."

"Kampung Warna-Warni, kurang-lebih dua kilometer dari sini kalau tidak salah baca peta."

Pagi
🚴 Sewa sepeda dari hotel, keliling Malang
Pinjam sepeda di lobi, isi formulir, langsung gowes. Malang pagi menyambut dengan angin yang tidak minta apa-apa.
Selesai
Pertengahan pagi
🌈 Kampung Warna-Warni Jodipan
Sampai, parkir sepeda, menyusuri jembatan. Indah, tapi lebih sepi dari yang dibayangkan.
Selesai
Siang
🏨 Kembali ke hotel, packing terakhir
Kumpulkan barang, cek kamar sekali lagi, check-out, titip koper di lobi.
Selesai
Sore — 17:45
🚆 Stasiun Malang → Jakarta
Kereta sore. Pulang. Membawa serta semua ketenangan yang sempat dikumpulkan selama beberapa hari ini.
Menunggu
🚴 Catatan Gowes: Malang Pagi Hari

Rute pagi ini tidak direncanakan serius. Hanya modal peta di kepala dan insting belok ke mana yang kelihatannya menarik.

Jalan-jalan di Malang memang relatif bersahabat untuk sepeda. Ada beberapa titik yang trotoarnya cukup lebar, pohon-pohon tua yang memberi teduh, dan kendaraan yang, setidaknya pagi ini, belum terlalu padat.

Mengayuh sepeda di kota orang ternyata adalah cara paling jujur untuk mengenal sebuah kota. Tidak terlalu cepat seperti motor, tidak terlalu terbatas seperti jalan kaki. Ada jeda yang cukup untuk melihat, memperhatikan, dan sesekali berhenti tanpa perlu mencari tempat parkir yang ribet.

Sampai di tepi Sungai Brantas, saya berhenti sebentar. Pegang rem. Pandang ke bawah. Dari sini, Kampung Jodipan sudah terlihat.

Kampung Warna-Warni Jodipan. Saya ingat pertama kali melihatnya di media sosial beberapa tahun lalu, gambar-gambar yang terasa seperti sengaja dicat untuk kamera, ratusan rumah di tepi sungai dengan warna yang tidak malu-malu. Merah menyala. Kuning terang. Biru laut. Hijau daun. Semuanya berjejer di lereng yang curam, seperti mozaik yang tumbuh organik tapi ternyata punya cerita yang tidak sederhana di baliknya.

Saya menuntun sepeda melewati jembatan gantung kecil yang menghubungkan tepi sungai ke kawasan kampung. Besi-besi jembatan sudah bercat, ada gambar bunga dan pola geometris yang masih lumayan terawat. Di bawah, aliran Sungai Brantas bergerak pelan, warnanya coklat kehijauan seperti biasanya.

💭 Di atas jembatan gantung

"Ah, ini dia."

"Lebih sepi dari yang kubayangkan."

"Tapi justru karena itu, jadi lebih bisa dinikmati."

🌈 Kampung Jodipan: Antara Warna dan Realita

Kampung ini memang masih berdiri, masih dicat, masih berwarna. Dari jembatan, panoramanya tetap memukau, ratusan dinding rumah yang bertumpuk di lereng sungai, masing-masing dengan warna yang tidak takut mencolok.

Tapi pengunjungnya sudah jauh berkurang. Tidak ada antrean foto di sudut-sudut instagramable seperti yang pernah saya lihat di foto-foto lama. Warung-warung kecil di sepanjang jalan kampung tidak semuanya buka. Beberapa gerobak suvenir terlihat tertutup.

Euforia awal wisata instagramable memang punya umur. Ketika semua orang sudah pernah melihat fotonya, sudah pernah share di feed-nya, tempat itu perlahan kehilangan daya tarik sebagai destinasi "wajib dikunjungi". Yang tersisa adalah tempat yang sesungguhnya, dengan segala keasliannya.

Dan entah kenapa, versi yang lebih sepi ini justru lebih menarik buat saya. Bisa berdiri lama di satu sudut tanpa ada yang mendesak untuk gantian foto.

Saya berjalan pelan menyusuri gang-gang kecil kampung itu. Beberapa warga keluar untuk kegiatan pagi, ibu-ibu membawa cucian, bapak-bapak duduk di kursi plastik sambil ngobrol. Mereka tidak terlalu memperhatikan keberadaan saya, dan saya pun tidak ingin mengganggu. Hanya berjalan, melihat, dan merasakan bahwa di balik cat warna-warni yang menjadi ikon wisata itu, ada kehidupan sehari-hari yang berjalan biasa saja, sama seperti kampung-kampung lain di Indonesia.

Ada sesuatu yang mengingatkan saya pada sebuah pelajaran kecil: destinasi wisata yang paling jujur adalah yang tetap ada dan tetap berfungsi bahkan ketika kamera sudah tidak terlalu banyak mengarah ke sana. Kampung Jodipan masih ada. Masih berwarna. Masih dihuni. Itu saja sudah cukup.

"Tempat yang bertahan bukan karena viral, tapi karena di sana ada kehidupan yang nyata, adalah tempat yang paling pantas untuk dikunjungi pelan-pelan."

Saya kembali ke sepeda setelah hampir satu jam menyusuri kampung. Perjalanan balik ke hotel lebih santai, tanpa target waktu yang ketat. Mampir di warung pinggir jalan untuk beli es teh dan gorengan yang baru diangkat dari wajan. Dua ribu rupiah per biji. Nikmatnya tidak proporsional dengan harganya.

🚴
Total Gowes
± 6 km pulang-pergi
⏱️
Durasi di Jodipan
± 1 jam, santai
🌈
Kondisi
Sepi, tapi lebih personal
🧆
Sarapan Jalanan
Es teh + gorengan pagi

Koper sudah dikemas sejak semalam. Tidak banyak yang perlu dilakukan selain check-out, titip barang di lobi, dan mengisi sisa waktu dengan duduk di kursi taman hotel sambil menyelesaikan tulisan yang tertunda. Salah satunya tulisan ini.

Perjalanan ini dimulai dari Batu. Coban Kaca. Alun-alun. Hotel dengan jendela yang menghadap gunung. Lalu satu hari ke Surabaya yang tidak direncanakan tapi ternyata produktif. Balik ke Malang. Dan hari ini, putaran terakhirnya, selesai di atas sadel sepeda dan di tepi sungai yang berwarna.

💭 Di lobi hotel, menunggu waktu berangkat

"Beberapa hari yang cukup padat."

"Tapi padat yang menyenangkan. Bukan padat karena meeting."

"Kereta jam 17.45. Masih ada waktu beberapa jam. Santai saja."

"Jakarta besok pagi sudah menunggu. Senin sudah menunggu. Tapi tidak apa-apa."

Ada kepuasan tertentu yang datang bukan dari perjalanan yang sempurna, tapi dari perjalanan yang benar-benar dijalani. Tidak ada yang luar biasa spektakuler dari beberapa hari ini, tidak ada momen yang akan masuk highlight reel kehidupan, tapi semuanya terasa nyata. Angin di Coban Kaca nyata. Kopi pagi di kamar nyata. Diskusi bisnis di Surabaya nyata. Dan kampung yang lebih sepi dari ekspektasi itu juga nyata, bahkan justru karena sepinya.

Ketenangan yang terkumpul dalam beberapa hari ini, saya tahu, punya masa berlaku. Senin akan datang. Pekerjaan akan menumpuk. Notifikasi akan berdatangan. Tapi setidaknya untuk beberapa waktu ke depan, saya punya cadangan. Tabungan ketenangan yang cukup untuk melewati hari-hari biasa sampai jadwal libur berikutnya tiba.

Dan jadwal libur berikutnya? Idul Adha. Masih beberapa pekan lagi. Waktu yang cukup untuk kembali produktif, kembali fokus, dan kemudian, ketika saatnya tiba, kembali pergi lagi.

"Berlibur bukan untuk lari dari pekerjaan. Tapi untuk memastikan ketika kembali bekerja, kita membawa versi diri yang lebih penuh, lebih sabar, dan sedikit lebih tahu apa yang penting."

Sore masih beberapa jam lagi. Kereta jam 17.45 belum datang. Dan untuk sekarang, saya tidak perlu kemana-mana.

Kursi taman di depan lobi hotel cukup nyaman. Kopi dari dalam sudah dingin setengah, tapi tidak apa-apa. Ada sesuatu yang menyenangkan dari duduk di sini, di hari terakhir, tidak terburu-buru, sambil membiarkan semua yang sudah dijalani beberapa hari ini mengendap dengan sendirinya.

"Hari terakhir di kota orang tidak harus diisi dengan daftar tempat yang belum dikunjungi. Kadang cukup duduk, merasakan udaranya, dan sadar bahwa perjalanan ini sudah memberikan apa yang memang dicari."

Masih di Malang. Masih menikmati. Kereta sore nanti yang akan mengakhirinya. 🚴🌈

Ditulis di taman hotel, sambil menunggu sore,

Angga Narotama

Life, Art & Everything Nice