Di atas kertas, hari ini adalah tengah minggu.
Dua hari sudah terlewat. Dua hari lagi sebelum Jumat. Secara matematis, posisi kita tepat di garis tengah, seimbang, simetris, presisi. Seharusnya terasa seperti puncak bukit yang bisa melihat ke dua arah sekaligus.
Tapi tidak begitu rasanya, kan?
Rabu itu aneh. Ia tidak terasa seperti "sudah sampai tengah". Ia terasa seperti masih jauh dari ujung. Senin dan Selasa sudah melelahkan, tapi Jumat masih terlihat samar-samar di kejauhan seperti lampu kota yang dilihat dari atas gunung, ada, tapi terasa belum dekat.
Hari kerja minggu ini hampir selesai, besok libur panjang sudah menunggu. ๐
Saya duduk tadi pagi, menyeduh kopi seperti biasa, dan menyadari sesuatu.
Rabu pagi selalu membawa jenis keheningan yang berbeda dari Senin. Pada Senin, keheningan itu tegang, seperti penonton sebelum pertunjukan dimulai. Tapi Rabu? Raabu pagi terasa seperti jeda di tengah konser panjang. Semua orang masih ada di kursi. Musik belum berhenti. Hanya ada napas sebentar, sebelum babak selanjutnya dimulai.
"Titik tengah bukan tempat untuk berhenti. Ia adalah tempat untuk melihat ke belakang, mensyukuri seberapa jauh kaki sudah melangkah, sebelum dengan tenang kembali menghadap ke depan."
Dan kalau saya melihat ke belakang hari ini, dua hari ini tidak sia-sia. Senin yang berat berhasil dilewati. Selasa yang tanggung berhasil ditaklukkan, pelan-pelan, tanpa banyak drama. Itu bukan hal kecil.
Kita sering lupa mensyukuri hari-hari yang sudah terlewat karena terlalu sibuk mengkhawatirkan hari-hari yang belum datang. Kita sudah melewati Senin tapi tidak sempat bilang pada diri sendiri: "Hei, kamu berhasil."
Rabu adalah undangan untuk berhenti sejenak dan menghitung, bukan berapa jauh yang masih harus ditempuh, tapi berapa jauh yang sudah berhasil kamu lalui. Dua hari itu bukan sedikit, teman.
Hari ini saya tidak akan memaksakan diri untuk berlari. Rabu bukan hari untuk sprint, ia adalah hari untuk stride, langkah panjang yang stabil, yang tidak terburu-buru tapi tidak juga berhenti. Mengerjakan apa yang perlu dikerjakan, satu per satu, dengan kepala yang lebih jernih dari Senin.
Karena pada Rabu, sudah tidak ada lagi alasan mager dari Senin. Sudah tidak ada lagi kekalutan pertama minggu. Yang ada hanya kamu, dan pilihan untuk mengisi setengah minggu yang tersisa ini dengan sesuatu yang berarti.
Dan ada satu hal lagi yang membuat Rabu ini terasa berbeda dari Rabu-Rabu biasanya, besok sudah libur. Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu. Empat hari penuh. Bukan di ujung minggu depan, bukan lusa. Besok. Hanya perlu melewati hari ini dengan baik, dan pintu itu sudah terbuka lebar.
Jadi hari ini bukan sekadar titik tengah minggu. Hari ini adalah garis finish. Selesaikan dengan tenang, tidak perlu terburu-buru, tidak perlu dipaksakan. Tapi selesaikan.
Karena di balik Rabu ini, libur panjang sudah menyiapkan kursinya, lengkap dengan udara segar dan tidak ada notifikasi kerja.
"Kadang, hari yang paling produktif bukan yang paling bersemangat, tapi yang paling sadar bahwa ada sesuatu indah menunggu di ujungnya. Rabu ini, kamu punya alasan yang sangat konkret untuk menyelesaikan hari dengan baik."
Selamat melewati hari kerja terakhir minggu ini. Besok, biarkan dirimu benar-benar istirahat. Kamu sudah layak mendapatkannya. ๐๐๏ธ
Ditulis di titik tengah,
Angga Narotama
Life, Art & Everything Nice
๐ฌ Bagikan Pendapatmu
Punya pikiran, pertanyaan, atau cerita terkait artikel ini? Tinggalkan komentar di bawah โ saya senang mendengarnya!