Sen
Sel โ†
Rab
Kam
Jum
Sab
Min

Ada hari-hari yang punya nama besar.

Senin, hari yang penuh drama, penuh tekad, penuh status medsos soal "new week new me" yang separuhnya tidak bertahan sampai siang. Jumat, hari yang disambut seperti pahlawan, dirayakan bahkan sebelum jam kerja berakhir. Sabtu dan Minggu sudah jelas, mereka adalah raja dan ratu dalam kalender mingguan kita.

Lalu ada Selasa.

Selasa tidak punya hype. Tidak ada yang memposting foto kopi dengan caption semangat khusus untuk Selasa. Tidak ada yang bilang "Happy Tuesday, guys!" dengan tulus dari lubuk hati. Selasa hadir begitu saja, diam, tidak berdrama, tidak meminta perhatian, dan itulah yang membuatnya terasa paling berat.

Karena Selasa adalah hari ketika semua alibi sudah habis.

Senin kemarin kamu masih bisa bilang, "Masih adaptasi." Rabu nanti kamu sudah bisa bilang, "Tinggal dua hari lagi." Tapi Selasa? Selasa berdiri di tengah, di wilayah abu-abu yang tidak memberi kamu pelarian ke mana-mana. Hanya kamu, kursimu, dan pekerjaan yang sudah menunggu sejak kemarin.

Kalau jujur, kondisi batin saya tadi pagi kira-kira begini:

Semangat


55%
Ngantuk


70%
Lapar


85%
Deadline


40%
Overthinking


65%

Standar. Sangat manusiawi. Dan mungkin kamu juga tidak jauh berbeda.

Tapi justru di situlah hal yang paling saya sukai dari Selasa, karena ia tidak punya topeng. Ia tidak berpura-pura jadi hari yang heroik. Ia hanya datang, mengetuk pintu, dan berkata pelan: "Ayo. Mulai saja."

"Selasa tidak butuh kamu yang penuh semangat membara. Selasa hanya butuh kamu yang mau duduk, membuka pekerjaan pertama, dan mulai, meski lambat, meski setengah mengantuk, meski perut masih lapar."

Dan ternyata itu cukup. Selalu cukup.

Saya mulai tadi pagi dari hal terkecil yang ada di daftar. Bukan yang paling penting. Bukan yang paling mendesak. Hanya yang paling mudah dimulai, supaya roda dalam diri ini berputar dulu, sebelum akhirnya berakselerasi sendiri tanpa perlu didorong lagi.

Kamu tahu rasanya kan? Ketika satu hal kecil selesai, lalu ada dorongan kecil yang muncul begitu saja. Lalu satu hal lagi. Lalu satu lagi. Tiba-tiba siang sudah datang dan kamu sudah lebih jauh dari yang kamu bayangkan tadi pagi.

Itu bukan keajaiban. Itu hanya efek sederhana dari satu keputusan kecil: mulai.

Kalau kamu sedang baca ini di tengah Selasa yang berat, hei, tidak apa-apa berhenti sebentar. Tapi setelah ini, kembalilah. Rabu sudah menunggu di ujung sana. Dan percayalah, perjalanan ke sana tidak sepanjang yang terasa sekarang.

"Bukan hari yang mudah yang membentuk kita. Justru hari-hari tanggung seperti Selasa ini, yang datang tanpa fanfare, tanpa tepuk tangan, yang mengajarkan kita untuk bekerja bukan karena mood, tapi karena memang itulah yang perlu dilakukan."

Semoga Selasamu produktif. Dan jangan lupa makan siang, itu penting, tidak kalah pentingnya dari deadline manapun. โ˜•

Ditulis di sela kerjaan, seperti biasa,

Angga Narotama

Life, Art & Everything Nice