Bukan sekali. Bukan dua kali. Entah sudah yang ke berapa, dan setiap kali jari menekan tombol snooze, ada suara kecil di kepala yang berbisik pelan: "Lima menit lagi. Cuma lima menit."

Kita semua tahu lima menit itu bohong.

Tapi tetap saja kita percaya. Senin demi Senin. Tahun demi tahun. Seolah ada perjanjian diam-diam antara kita dan selimut, bahwa pagi ini, seperti pagi-pagi sebelumnya, boleh menunggu sebentar lagi.

😴
Mode Minggu

Badan masih mager total. Aroma rebahan Minggu kemarin belum hilang. Rasanya pengen snooze sekali lagi... atau dua kali.

VS
Mode Senin

Tapi ada yang menggelitik di kepala, pekerjaan-pekerjaan menantang sudah menunggu. Dan entah kenapa, itu bikin excited.

Dua perasaan itu hadir bersamaan. Bukan bergantian, tapi betul-betul bersamaan, seperti dua orang yang berebut pintu sempit. Yang satu ingin kembali tidur, yang satu sudah ancang-ancang mau mulai hari. Dan kamu, yang ada di tengah-tengah keduanya, hanya bisa diam menunggu siapa yang menang.

Kalau kamu pernah merasakannya, kamu tidak aneh. Kamu tidak lemah. Kamu hanya manusia biasa yang hidupnya tidak selalu linier dan bersemangat sejak subuh.

"Tidak semua orang bisa langsung berlari di pagi hari. Sebagian dari kita perlu duduk dulu, memegang cangkir hangat, dan membiarkan dunia berjalan pelan-pelan sebelum kita ikut di dalamnya."

Saya akhirnya bangkit. Bukan karena tiba-tiba penuh semangat. Bukan karena ada motivasi besar yang tiba-tiba menyala. Tapi karena kopi itu tidak akan datang sendiri ke tempat tidur.

Dan kadang, itu sudah cukup jadi alasan.

Lima menit duduk diam dengan cangkir di tangan. Memandang ke luar jendela, melihat langit yang perlahan terang. Tidak memegang ponsel. Tidak membuka aplikasi apapun. Hanya duduk, dan membiarkan hari ini datang dengan caranya sendiri.

Ternyata itu yang dibutuhkan. Bukan motivasi dari kutipan inspiratif. Bukan podcast semangat pagi. Cukup diam. Cukup kopi. Cukup jeda kecil yang tidak banyak orang berani ambil di tengah dunia yang selalu terburu-buru.

Hari ini ada banyak yang menunggu. Beberapa hal yang sudah lama ingin saya kerjakan, beberapa hal yang sedikit membuat jantung berdegup lebih cepat dari biasanya. Tapi justru itu, justru ketegangan kecil itulah yang membuat hari ini terasa nyata. Terasa hidup.

Kalau semua hari terasa mudah dan datar, itu bukan hidup yang tenang. Itu hidup yang berhenti berdetak.

Tulisan ini bukan tentang tips produktivitas. Bukan tentang cara menaklukkan Senin dengan formula ajaib. Ini hanya tentang saya, kamu, dan drama kecil yang terjadi setiap pagi di dalam dada, yang tidak pernah kita ceritakan ke siapapun tapi selalu kita rasakan bersama.

Semoga Seninmu baik-baik saja. Atau setidaknya, cukup bisa kamu lewati dengan kepala tegak dan kopi yang masih hangat.

"Tidak ada Senin yang terlalu berat bagi orang yang tahu, meski samar-samar, kenapa ia harus bangun pagi ini."

Selamat memulai minggu. Satu langkah kecil hari ini, satu langkah kecil saja, sudah jauh lebih berarti dari rencana sempurna yang tidak pernah dimulai. ☀️

Ditulis sambil ngopi, pelan-pelan,

Angga Narotama

Life, Art & Everything Nice