Saya turun dengan satu tas kecil dan misi yang belum sepenuhnya jelas. Stasiun Gubeng selalu punya suasana tersendiri, ramai tapi tidak panik, hiruk-pikuk khas kota besar yang sudah tahu caranya bergerak efisien. Saya tidak banyak berdiri di sana. Langsung buka aplikasi, pesan ojek online, dan dalam beberapa menit sudah duduk di belakang motor, meluncur ke arah Jalan Tunjungan.

💭 Di atas ojek, membelah Surabaya

"Lama juga tidak ke sini."

"Surabaya tetap Surabaya. Panas, ramai, dan tidak pernah setengah-setengah."

"Semoga dia sudah dekat. Perut sudah mulai bicara."

Ojek menurunkan saya tepat di depan Gedung Siola. Saya berdiri sebentar, memandang fasad bangunan tua itu. Ada sesuatu yang selalu menarik dari bangunan-bangunan peninggalan zaman kolonial ini, mereka berdiri di tengah kota yang terus bergerak cepat, tapi mereka sendiri tidak bergerak kemana-mana. Tenang. Kokoh. Seolah tidak perlu terburu-buru membuktikan apa-apa.

Saya mengirim pesan ke dia. "Udah sampai. Di depan Siola."

Balasannya: "Lima menit lagi."

Klasik.

Pagi
🚆 Stasiun Malang → Gubeng
Dua jam di atas kereta. Kopi sachet. Tulisan. Sampai dengan selamat.
Selesai
Siang
🛵 Gubeng → Gedung Siola, Jl. Tunjungan
Ojek online. Lima menit. Turun di depan bangunan tua yang tidak terburu-buru.
Selesai
Setelah tunggu sebentar
🥗 Jl. Genteng, Rujak Cingur
Kawan datang. Langsung eksekusi makan. Prioritas yang benar.
Selesai
Sore
☕ Kafe di Jl. Tunjungan, Obrolan Bisnis
Duduk, pesan kopi, buka laptop, mulai bicara soal sistem dan potensi.
Selesai
Segera
🚆 Kembali ke Gubeng → Malang
Kereta menunggu. Batu besok juga menunggu.
Berikutnya

Lima menit ternyata sepuluh. Tapi tidak apa-apa. Saya cukup sibuk berdiri dan memperhatikan lalu-lalang Jalan Tunjungan. Trotoarnya memang sudah jauh lebih nyaman dari yang saya ingat, lebih lebar, lebih bersih, dengan pohon-pohon yang cukup besar untuk memberikan bayangan. Orang-orang berjalan tidak terlalu terburu-buru. Untuk ukuran Surabaya, itu sesuatu.

Dia datang dengan motor, helm diangkat, senyum yang sama seperti terakhir kali kami bertemu entah berapa lama yang lalu. Setelah jabat tangan dan basa-basi singkat, dia langsung bilang satu hal yang tidak perlu dua kali diucapkan:

"Kamu sudah makan?"

Belum, jawab saya. Dan itulah awal dari keputusan terbaik hari ini.

🥗 Laporan Rujak Cingur, Jl. Genteng

Tempatnya tidak jauh dari Tunjungan, masuk ke kawasan pusat jajanan Jalan Genteng yang sudah lama jadi langganan orang Surabaya.

Rujak cingurnya datang dalam mangkuk yang penuh: cingur sapi yang empuk, lontong, tahu, tempe, sayuran segar, taoge, dan bumbu petis yang hitam pekat dengan aroma yang langsung menghantam semua kesadaran.

Tidak ada kata-kata yang cukup untuk bumbu petis yang benar-benar bagus. Anda hanya bisa diam, makan, dan mengangguk sendiri.

Perut yang tadi protes karena sarapan dilewati akhirnya berdamai. Sepenuhnya.

Makan rujak cingur di Surabaya adalah salah satu pengalaman yang menurut saya tidak bisa diduplikasi di tempat lain. Bukan karena tidak ada yang mencoba, banyak yang mencoba, tapi ada sesuatu soal petis Surabaya yang asli, cara mencampurnya, dan suasana warung yang sudah berjalan puluhan tahun, yang membuat versi lain selalu terasa kurang satu langkah.

"Makanan terbaik tidak selalu ada di restoran paling instagramable. Kadang ada di warung yang mejanya sedikit goyang dan kipas anginnya setengah mati, tapi rasa dan kenangannnya jauh lebih kuat dari tempat manapun."

Selesai makan, kami kembali ke Jalan Tunjungan. Dia tahu satu kafe yang cukup nyaman untuk ngobrol panjang, tidak terlalu ramai, sinyal bagus, dan kopinya tidak mengecewakan. Kami pilih meja di sudut. Pesan kopi. Dan barulah dia mulai cerita.

💡 Inti Obrolan, Potensi Bisnis Surabaya

Dia punya kenalan, seorang pengusaha lokal Surabaya yang bisnisnya sudah berjalan cukup baik tapi mulai kewalahan karena semuanya masih dikelola manual. Tidak ada sistem yang menyatukan data, transaksi, laporan, dan operasional.

Kebutuhannya cukup jelas: sistem informasi yang simpel, bisa diakses dari mana saja, dan tidak membutuhkan tim IT internal yang besar untuk menjalankannya.

Dia tahu saya punya latar belakang di sana. Makanya telepon itu terjadi. Makanya kereta itu naik. Makanya rujak cingur itu dimakan.

Insyaallah ada jalan. Detail teknisnya perlu satu-dua sesi lagi. Tapi arahnya sudah kelihatan.

Obrolan itu berlangsung lebih dari dua jam. Kami membahas skop sistem yang dibutuhkan, perkiraan timeline, dan bagaimana bentuk kerja samanya bisa distrukturkan. Tidak ada yang diputuskan secara final hari ini, tapi fondasi percakapannya sudah terbangun. Kadang memang itu yang paling penting dari pertemuan pertama, bukan kesimpulan, tapi rasa bahwa ini bisa jalan.

🤝
Status
Prospek terbuka, arah jelas
💻
Kebutuhan Klien
Sistem informasi bisnis
📅
Next Step
Sesi teknis berikutnya
Kopi selama obrolan
Dua cangkir. Layak.

Dan kemudian saya lihat jam.

Saya terkesiap. Waktu yang tadinya terasa longgar tiba-tiba menjadi sempit. Jadwal kereta kembali ke Malang tidak bisa diganggu gugat, dan Stasiun Gubeng bukan tempat yang bisa dicapai dalam satu menit.

💭 Momen panik yang tertahan

"Lho, sudah jam segini?"

"Kenapa obrolan bagus selalu terasa cepat dan rapat membosankan selalu terasa lambat?"

"Oke. Harus bergerak sekarang."

Kami berjabat tangan, bertukar konfirmasi untuk lanjut komunikasi setelah ini, dan saya langsung buka aplikasi ojek. Jalanan Surabaya siang menjelang sore memang tidak pernah benar-benar sepi, tapi sopir ojeknya tahu jalan tikus yang entah dari mana, dan kami tiba di Gubeng dengan waktu yang cukup, tidak banyak, tapi cukup.

Saya beli air minum di minimarket stasiun. Berdiri sebentar di peron. Menarik napas.

Hari ini, dalam hitungan jam: naik kereta, ojek, berdiri di depan bangunan tua, makan rujak cingur terbaik yang bisa dimakan di hari Sabtu, ngobrol panjang soal sistem dan bisnis yang insyaallah punya masa depan, lalu kejar kereta kembali. Semua dari satu telepon yang masuk semalam sebelum tidur.

"Ada kalanya satu hari cukup untuk mengubah sesuatu yang belum pasti menjadi sesuatu yang mulai terlihat bentuknya. Hari ini salah satunya."

Kereta berangkat. Saya duduk di kursi yang hampir sama dengan pagi tadi, dekat jendela, pemandangan yang sama, tapi kepala yang berbeda isinya. Pergi tadi masih penuh tanda tanya. Pulang sekarang setidaknya ada satu hal yang mulai jelas.

Dan besok, Minggu, masih ada Batu yang menunggu. Masih ada satu misi jalan-jalan yang belum selesai. Surabaya hari ini bab tersendiri. Batu besok bab yang lain.

Hidup yang sibuk tapi menyenangkan, rupanya, bisa terasa seperti ini.

"Pertemuan terbaik bukan yang direncanakan lama, tapi yang menghasilkan sesuatu nyata di akhirnya, bahkan kalau yang nyata itu hanya sebungkus arah yang lebih jelas."

Terima kasih Surabaya, untuk rujak cingur-mu, Jalan Tunjungan-mu, dan obrolan yang semoga berbuah. Sampai jumpa lagi, mungkin tidak lama. 🏙️🚆

Ditulis di atas kereta, dalam perjalanan kembali ke Malang,

Angga Narotama

Life, Art & Everything Nice