Saya putuskan jalan kaki ke Alun-alun Kota Batu. Google Maps bilang delapan menit. Saya tempuh dalam dua belas, karena berhenti dua kali untuk foto, satu kali karena pemandangannya bagus, satu kali karena ada kucing di depan warung yang ekspresinya seperti punya banyak filosofi hidup.

Dan kemudian, di ujung jalan yang sedikit menurun, saya melihatnya pertama kali.

Tulisannya besar. "Alun-alun Kota Wisata Batu."

Ada huruf tiga dimensi yang menjulang, ada lampu-lampu yang sepertinya sudah mulai dinyalakan meskipun masih sore, ada air mancur di tengah yang menyemprot rapi ke atas. Dan di sekelilingnya, taman, pohon, bangku-bangku, anak-anak berlarian, orang tua menunggu di pinggir dengan muka yang sama setiap orang tua di mana-mana: pasrah tapi sayang.

💭 Batin, pertama kali melihat alun-alun dari kejauhan

"Ini kecil ya."

"Tapi kenapa menyenangkan banget lihatnya?"

"Mungkin karena tidak mencoba jadi lebih dari yang seharusnya."

"Alun-alun yang tahu diri. Jarang ada."

Alun-alun Kota Batu itu kecil kalau dibanding alun-alun kota besar. Tapi ada sesuatu yang benar dari proporsinya. Tidak terlalu luas sampai kamu butuh GPS untuk keliling, tidak terlalu sempit sampai terasa sesak. Pas. Seperti baju yang ukurannya tepat di badan.

⛲️
Luas
Kecil tapi proporsional, nyaman dijelajahi
💦
Air Mancur
Tengah taman, aktif, jadi titik kumpul
🌝
Bianglala
Terlihat dari mana-mana, ikonik
🌞
Vibe
Keluarga, santai, tidak ada yang buru-buru

Hal pertama yang saya perhatikan selain gerbangnya adalah: bianglala itu. Besar. Tegak di sisi taman dengan percaya diri luar biasa. Tidak bergerak saat saya lihat pertama kali, tapi keberadaannya sudah cukup untuk membuat saya berpikir, "oh, jadi ini kota yang punya bianglala di tengahnya."

Tapi yang paling membuat saya berhenti dan benar-benar berdiri diam sebentar adalah ini: patung apel dan stroberi raksasa di sudut taman.

Saya tahu Batu terkenal dengan apelnya. Saya tahu ini kota agrowisata. Tapi ada sesuatu yang sangat jujur dan menyenangkan dari sebuah kota yang menaruh patung buahnya sendiri di tengah taman, besar dan merah, tanpa malu-malu, seolah berkata: ini kami, ini identitas kami, dan kami bangga.

🍎 Patung Apel & Stroberi, Ikon Taman
Dua buah raksasa yang tidak minta maaf atas keberadaannya.

Apel merah besar di sebelah kiri. Stroberi merah dengan bintik putih di sebelah kanan. Masing-masing lebih tinggi dari manusia dewasa. Antrian foto di depannya tidak pernah kosong selama saya ada di sana.

Saya sempat foto juga. Tidak akan saya akui ini di depan orang banyak, tapi ya, saya foto di depan patung apel raksasa seperti semua orang yang ada di sana. Dan tidak menyesal sama sekali.

Dari sudut patung apel, saya berjalan melingkari taman. Tidak ada tujuan. Tidak ada checklist. Hanya berjalan pelan dengan tangan di saku dan melihat sekeliling seperti turis yang baru pertama kali ke kota ini, karena memang iya.

Di sisi timur taman, ada Masjid Agung An Nuur. Menaranya terlihat dari mana-mana di kawasan ini, putih bersih dengan kubah hijau, dan pas saya lewat di depannya, azan Ashar mulai berkumandang. Suaranya menyebar ke seluruh alun-alun. Seketika keramaian di taman sedikit melambat, beberapa orang berhenti, menoleh ke masjid, sebagian mulai bergerak ke arah sana.

💭 Batin, di depan Masjid An Nuur, pas azan Ashar

"Ada sesuatu yang menenangkan dari kota kecil yang masjidnya terlihat dari alun-alunnya."

"Seperti pengingat yang tidak pernah minta perhatian berlebihan, tapi selalu ada."

"Batu punya itu."

Selesai sholat, saya keluar dan kembali ke taman. Langit sudah berubah warna. Golden hour di Batu itu berbeda dari kota lain, cahayanya hangat tapi udaranya tetap dingin, kombinasi yang aneh tapi sangat menyenangkan untuk dinikmati sambil duduk di bangku taman.

Saya beli es krim dari pedagang kaki lima yang sudah berdiri di posisi yang sama sepertinya sudah sejak pukul dua belas. Harganya Rp8.000. Rasa coklat. Dimakan sambil duduk di bangku menghadap air mancur, melihat anak-anak yang mencoba berlari mendekati semprotan air dan kaget sendiri waktu basah.

📍 Yang Ada di Alun-alun Kota Batu

Gerbang Ikonik: Tulisan tiga dimensi "Alun-alun Kota Wisata Batu" yang jadi titik foto wajib semua orang.

Air Mancur Tengah: Aktif sepanjang hari, menyala dengan efek lampu warna-warni saat malam tiba.

Bianglala: Beroperasi sore sampai malam, terlihat dari ujung-ujung taman, jadi landmark visual yang tidak bisa diabaikan.

Patung Apel & Stroberi: Ikon agrowisata Batu yang berdiri besar di tengah taman. Antrian foto tidak pernah sepi.

Masjid Agung An Nuur: Persis di sisi timur alun-alun, menara putihnya bisa dilihat dari mana saja di kawasan ini.

Pedagang Kaki Lima: Es krim, jagung bakar, camilan. Harga masih sangat bersahabat.

"Ada kota yang harus kamu datangi dengan agenda penuh supaya terasa worth it. Dan ada kota yang cukup kamu duduki satu jam di alun-alunnya, makan es krim, tidak ngapa-ngapain, dan kamu pulang sudah merasa cukup."

Saya duduk di bangku itu hampir satu jam. Tidak membuka HP. Tidak menulis catatan. Hanya melihat.

Melihat langit yang warnanya berubah dari biru ke jingga ke merah muda tipis. Melihat lampu-lampu taman yang mulai menyala satu per satu. Melihat pengunjung bergantian datang dan pergi, tapi tempat ini tidak pernah kosong dan tidak pernah terlalu ramai, selalu di titik yang pas.

Dan waktu malam benar-benar tiba dan semua lampu menyala penuh, gerbang itu, air mancur itu, bianglala itu, saya menyadari satu hal:

Sore ini tidak ada yang luar biasa yang terjadi. Tidak ada tempat eksotis yang dikunjungi. Tidak ada pengalaman ekstrem yang perlu diceritakan dengan dramatis. Hanya alun-alun kecil di kota dingin, es krim Rp8.000, dan satu jam duduk tanpa agenda.

Tapi ini, dengan segala kesederhanaannya, terasa seperti bagian terbaik dari hari ini.

🌄 Malam Ini, Masih Tanda Tanya

Belum ada rencana malam ini. Mungkin jalan sedikit lagi di sekitar sini, mungkin kembali ke kamar dan buka jendela seperti tadi pagi. Besok jam empat pagi alarm sudah terpasang, jadi malam ini, tidak perlu buru-buru ke mana-mana.

"Batu mengajarkan satu hal yang sering lupa dipraktikkan: bahwa tidak semua momen perlu diisi dengan kegiatan. Kadang, duduk dan melihat saja sudah cukup jadi sebuah kenangan."

Sampai di sini dulu. Anginnya dingin. Es krimnya habis. Hati cukup penuh. 🍎☕

Ditulis dari bangku taman Alun-alun Kota Batu, suhu 17°C, malam baru mulai,

Angga Narotama

Life, Art & Everything Nice