Kadang tubuh itu jujur. Lebih jujur dari kata-kata yang kita ucapkan, lebih jujur dari senyum yang kita pasang saat meeting pagi.
Dan tubuh saya hari ini sedang berkata satu hal: istirahat.
Bukan istirahat yang setengah-setengah, rebahan sambil scroll medsos, atau tidur siang tapi kepala masih penuh pikiran soal pekerjaan. Tapi istirahat yang sungguhan. Yang benar-benar memutus sambungan sebentar dari hiruk-pikuk rutinitas.
"Manusia tidak dirancang untuk terus berlari tanpa henti. Bahkan sungai pun punya teluk-teluk kecil tempat airnya melambat dan berputar tenang sebelum melanjutkan perjalanan."
Dan libur panjang ini, seperti teluk itu bagi saya.
Mulai Rabu, 14 Mei, ada jeda panjang yang sudah menunggu. Empat hari. Empat hari penuh tanpa alarm kerja, tanpa notifikasi yang mendesak, tanpa pertanyaan "gimana progressnya?" Saya sudah menghitungnya sejak dua minggu lalu.
Sejak beberapa hari lalu, satu nama terus berputar di kepala saya. Kota Batu.
Entah kenapa, selalu ada yang berbeda dari udara pegunungan. Ketika pertama kali menciumnya, sejuk, basah, sedikit berbau tanah dan dedaunan, ada sesuatu yang langsung mengendur di dalam dada. Seperti tubuh yang akhirnya melepas napas panjang yang sudah ditahan terlalu lama.
Batu bukan kota yang asing bagi saya. Tapi setiap kali kembali, selalu ada perasaan seperti pertama kali. Kabut yang turun di pagi hari. Warung kopi di pinggir jalan dengan pemandangan lembah yang luar biasa. Kursi kayu yang agak goyang tapi entah kenapa terasa lebih nyaman dari sofa kantor.
Di sana, satu cangkir kopi bisa habis dalam dua jam. Bukan karena lupa, tapi karena terlalu sibuk menatap lanskap dan membiarkan pikiran melayang ke tempat-tempat yang selama ini tertutup oleh kesibukan.
Ini rencana saya yang belum pasti tapi sudah bikin semangat:
Saya tidak tahu persis apa yang akan terjadi di sana. Rencana bisa berubah, cuaca bisa tidak bersahabat, dan mungkin saya akan lebih banyak duduk diam daripada yang dibayangkan.
Tapi itu tidak apa-apa. Justru itu yang saya cari.
Ada orang-orang yang mengisi liburan dengan jadwal padat, destinasi A, destinasi B, foto di sini, makan di sana. Sah-sah saja. Tapi saya bukan tipe itu, setidaknya tidak untuk kali ini. Saya hanya ingin duduk di suatu tempat yang tinggi, memegang cangkir hangat, dan merasakan angin yang tidak pernah ada di kota.
Cukup itu. Benar-benar cukup itu.
"Perjalanan terbaik bukan selalu yang paling jauh. Kadang cukup beberapa jam dari kota, asal kamu benar-benar hadir di sana, bukan di sana secara fisik tapi pikiran masih di meja kerja."
Rabu ini, saya berangkat. Kalau kamu juga punya rencana libur panjang, apapun itu, selamat menikmati jedamu. Kamu sudah layak mendapatkannya. ๐ฟ
Ditulis sambil menghitung hari,
Angga Narotama
Life, Art & Everything Nice
๐ฌ Bagikan Pendapatmu
Punya pikiran, pertanyaan, atau cerita terkait artikel ini? Tinggalkan komentar di bawah โ saya senang mendengarnya!